LinkWithin

https://lh6.googleusercontent.com/-80nacHWVol8/UBVkjziJ8nI/AAAAAAAABkc/a8XuUEbqGIc/s640/Model.jpg

ChatBox

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Minggu, 08 Mei 2011

Struktur Filsafat Ilmu Islam; Akar Epistemology Menurut Al-Qur’ân dan Al-Sunnah

Teori Pengetahuan

Epistemologi selalu menjadi bahan yang menarik untuk dikaji, karena disinilah dasar-dasar pengetahuan maupun teori pengetahuan yang diperoleh manusia menjadi bahan pijakan. Konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dewasa ini beserta aspek-aspek praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak akarnya pada struktur pengetahuan yang membentuknya. Dari epistemologi, juga filsafat -dalam hal ini filsafat modern- terpecah berbagai aliran yang cukup banyak, seperti rasionalisme, pragmatisme, positivisme, maupun eksistensialisme.1

Dengan demikian, pengetahuan (knowledge atau ilmu) menjadi bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Berpikir (atau nathiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya, yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan " barangkali " keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia? Bagaimana manusia berpengetahuan? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran?

Sebenarnya pertanyaan diatas sangat sederhana karena sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi.

Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatas- perlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek.

Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah).2

Epistemologi menjadi sebuah kajian sebenarnya belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia Barat. Penyebabnya adalah bahwa sejak masuknya agama Nasrani ke Eropa, terdapat masalah hubungan antara pengetahuan samawi dan pengetahuan manusiawi, pengetahuan supranatural dan pengetahuan rasional-natural-intelektual, antara iman dan akal. Kaum agama di satu pihak mengatakan bahwa pengetahuan manusiawi harus disempurnakan dengan pengetahuan fides, sedang kaum intelektual mengemukakan bahwa iman adalah omong kosong kalau tidak terbuktikan oleh akal. Situasi ini menimbulkan tumbuhnya aliran Skolastik yang cukup banyak perhatiannya pada masalah epistemologi, karena berusaha untuk menjalin paduan sistematik antara pengetahuan dan ajaran samawi di satu pihak, dengan pengetahuan dan ajaran manusiawi intelektual-rasional di lain pihak. 3

Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu, bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua, yakni aliran rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Dari kaum rasionalis muncul Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya, Francis Bacon dengan Sensualismenya. 4

Pola berpikir kaum rasionalis bertumpuk dari aksioma dasar yang diturunkan dari ide tentang kebenaran yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas dan pasti dalam pikran manusia. Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui ide tersebut, namun manusia tidak menciptakannya dan tidak pula mempelajari lewat pengalaman. Singkatnya, bahwa bagi kaum rasionalisme ide tentang kebenaran, yang menjadi dasar bagi pengetahuannya diperoleh lewat berpikir secara rasional atau dengan kata lain kriteria kebenaran pengetahuan dikaitkan dengan kesesuaian antara pemikiran dengan kenyataan, terlepas dari pengalaman manusia. Sistem pengetahuan dibangun secara koheran diatas landasan-landasan pernyataan yang sudah pasti. Namun timbul pertanyaan, dari manakah kita mendapat kebenaran yang sudah pasti bila kebenaran itu tercerai dari pengalaman manusia yang nyata?. Disinilah kaum rasionalis mulai menemukan kesulitan untuk mendapatkan konsensus yang dapat dijadikan landasan bagi kegiatan berpikir bersama. Disini terlihat bahwa tiap orang cenderung untuk percaya kaum rasionalisme. kepada kebenaran yang pasti menurut mereka sendiri. Lalu bagaimana kita bisa sampai pada suatu konsensus bila hanya berdasarkan apa yang dianggap benar oleh masing-masing?. Kenyataan yang dihadapi, tidak hanya oleh para ilmuawan, bahwa betapa sukarnya untuk sampai kepada suatu kesimpulan yang dapat disetujui bersama bila hanya berdasarkan pada cara tersebut. Cara berpikir seperti ini akan menjerumuskan kita kedalam Silopsisme, yakni pengetahuan yang benar menurut anggapan kita masing-masing.5

Emperisme mempunyai cara berpikir yang sama sekali berlawanan dengan kaum rasionalisme. Kaum empiris menganjurkan agar kita kembali ke alam untuk mendapatkan pengetahuan. Alasan mereka adalah bahwa pengetahuan tidak ada secara apriori terdapat di benak kita, melainkan harus diperoleh dari pengalaman. Teori pengetahuannya, terutama yang dikemukakan oleh Lock (bapak kaum empiris Inggris) didasarkan pada pengalaman yang ditangkap oleh pancaindera kita. Dia memandang pikiran sebagai alat atau kertas lilin yang licin (tabula rasa) yang menerima dan menyimpan sensasi pengalaman. Pengetahuan merupakan hasil dari kegiatan keimuwan (pikiran) yang mengkombinasikan sensasi-sensasi pokok (McCleary, 1998).

Teori empiris sendiri memiliki dua aspek. Pertama adalah perbedaan antara yang mengetahui (subyek) dan yang diketahui (obyek). Terdapat di alam nyata yang terdiri dari fakta atau obyek yang dapat ditangkap oleh seseorang. Kedua adalah kebenaran atau pengujian kebenaran dari fakta atau obyek didasarkan kepada pengalaman manusia. Agar berarti bagi kaum empiris, maka pernyataan tentang ada atau tidak adanya sesuatu haruslah memenuhi persyaratan pengujian publik. Masalah yang rumit akan timbul bila persyaratan tentang suatu obyek atau kejadian ternyata tidak lagi terdapat untuk pengujian secara langsung.6

Berbeda dengan Barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung.7 Dalam hal ini, Ibnu Rusd berkata, “Jika syarî’ah ini benar adanya dan ia menyeru agar selalu berpikir untuk mencapai kepada pengetahuan kebenaran, maka kita sebagai orang Islam sama-sama sudah mengetahui bahwa berpikir secara argumentatif tidak akan bertentangan dengan apa yang terdapat dalam syarî’ah, karena kebenaran tidak akan bertentangan dengan kebenaran, namun akan selalu sesuai dan menjadi saksi kebenaran”.8 Maka tidak heran jika dari ulama Islam menguasai ilmu agama, namun dalam satu waktu juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khawarizmi, Syekh al Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.9


Mungkinkah manusia memperoleh pengetahuan?

Kaum shopis mempertanyakan, mungkinkah manusia dapat memiliki pengetahuan?. Mereka memang meragukan dan bahkan mengingkari bahwa manusia dapat memiliki pengetahuan. Bapak kaum shopis, Georgias pernah berkata, “Segala sesuatu tidak ada. Jika adapun, maka tidak dapat diketahui, atau jika dapat diketahui, maka tidak bisa diinformasikan”10. Sikap skeptis mereka tidak hanya terhadap wujud, namun juga terhadap pencipta alam. Menurut Phitagoras bahwa keberadaan Tuhan diragukan dengan alasan ketidak jelasan obyek dan keterbatasan umur manusia. Dari sini mereka berpendapat bahwa kebenaran adalah relatif. Sesuatu yang kita anggap benar adalah benar meskipun orang lain menganggapnya salah. 11

Mereka mempertanyakan pengetahuan dengan mengemukakan beberapa argumen yang cukup kuat. Pyrrho salah seorang dari mereka menyebutkan bahwa manusia ketika ingin mengetahui sesuatu menggunakan dua alat yakni, indra dan akal. Indra yang merupakan alat pengetahuan yang paling dasar mempunyai banyak kesalahan, baik indra penglihat, pendengar, peraba, pencium dan perasa.12 Satu indra saja mempunyai kesalahan ratusan. Sementara antar sesama manusia sendiri dalam mengindera sesuatu terdapat perbedaan. Belum lagi pengaruh lingkungan, tempat dan waktu, ketika manusia dalam keadaan sehat, sakit, sadar, tidur dan lain sebagainya yang tentunya berpengaruh kepada panca indera.12 Jika demikian adanya, maka bagaimana pengetahuan lewat indra dapat dipercaya? Demikian pula halnya dengan akal. Manusia seringkali salah dalam berpikir. Bukti yang paling jelas bahwa di antara para filusuf sendiri terdapat perbedaan yang jelas tidak mungkin semua benar pasti ada yang salah. Maka akalpun tidak dapat dipercaya. Oleh karena alat pengetahuan hanya dua saja dan keduanya mungkin bersalah, maka pengetahuan tidak dapat dipercaya.

Rene Descartes termasuk pemikir yang beraliran rasionalis. Ia cukup berjasa dalam membangkitkan kembali rasionalisme di barat. Muhammad Baqir Shadr memasukkannya ke dalam kaum rasionalis. Ia termasuk pemikir yang pernah mengalami skeptisme akan pengetahuan dan realita, namun ia selamat dan bangkit menjadi seorang yang meyakini realita. Bangunan rasionalnya beranjak dari keraguan atas realita dan pengetahuan. Ia mencari dasar keyakinannya terhadap Tuhan, alam, jiwa dan kota Paris. Dia mendapatkan bahwa yang menjadi dasar atau alat keyakinan dan pengetahuannya adalah indra dan akal. Ternyata keduanya masih perlu didiskusikan, artinya keduanya tidak memberika hal yang pasti dan meyakinkan. Lantas dia berpikir bahwa segala sesuatu bisa diragukan, tetapi ia tidak bisa meragukan akan pikirannya. Dengan kata lain ia meyakini dan mengetahui bahwa dirinya ragu-ragu dan berpikir. Ungkapannya yang populer dan sekaligus fondasi keyakinan dan pengetahuannya adalah " Saya berpikir (baca : ragu-ragu), maka saya ada ".

Argumentasinya akan realita menggunakan silogisme kategoris bentuk pertama, namun tanpa menyebutkan premis mayor. Saya berpikir, setiap yang berpikir ada, maka saya ada.

Dari dunia Islam adalah Imam al Ghazzali yang pernah skeptis terhadap realita, namun iapun selamat dan menjadi pemikir besar dalam filsafat dan tashawwuf. Perkataannya yang populer adalah " Keraguan adalah kendaraan yang mengantarkan seseorang ke keyakinan”. Dengan demikian pengetahuan adalah sesuatu yang mungkin diketahui.13

Dalam al-Qur’ân terdapat beberapa ayat yang menunjukkan bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan. Ini dapat kita lihat dari sejarah penciptakan Adam. Tuhan menciptakan Adam kemudian memberikan pengetahuan kepadanya. Dengan pengetahuan ini, manusia mendapat nilai lebih dibandingkan dengan Malaikat sehingga Tuhan memerintahkan mereka untuk besujud sebagai tanda penghormatan kepada Adam. (QS. al Baqarah: 30-34). Manusia sebagai anak cucu Adam tidak hanya diciptakan begitu saja, namun mengemban amanat sebagai khalifah dimuka bumi (QS. al Ahzab:72). Agar manusia dapat melaksanakan tugas ini dengan baik tentu dibutuhkan pengetahuan dan sikap tanggung jawab. Manusia dituntut untuk mengetahui eksistensi dirinya, cara berinteraksi dengan realitas, terlebih-lebih berinteraksi dengan Tuhan. Manusia juga dituntut untuk mengetahui rahasia alam, menguasai alam raya demi kemaslahatam manusia sendiri. Karena alam ciptaan-Nya hanya diperuntukkan bagi umat manusia seluruhnya.

Manusia adalah subyek pengetahuan, sedangkan Tuhan serta alam ciptaan-Nya adalah obyek pengetahuan. Tuhan adalah obyek pengetahuan yang paling utama, karena Ia adalah sumber ilmu pengetahuan. Keberadaan Tuhan dapat diketahui melalui alam ciptaannya (QS. Al Mulk:3). Dalam hal ini Imam Ghozali berkata, “Alam semesta adalah sesuatu yang baru (al hâdits). Dan sesuatu yang baru (al hâdits) membutuhkan subyek yang mewujudkannya. Dan subyek ini adalah Tuhan.14

Namun alam raya, manusia dan ghoibyah adalah suatu pengetahuan yang tidak terbatas, sementara akal manusia sebagai subyek pengetahuan sangat terbatas. Bahkan antara sesama manusia pun dalam memahami sesuatu mengalami perbedaan sesuai dengan tingkatan kemampuan, perkembangan pendidikan, sumber dan metodologi yang ia gunakan. Dengan keterbatasan akal manusia ini, manusia tetap saja tidak akan pernah mempu mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan tiga hal tersebut secara sempurna. Manusia juga tidak dapat mengetahui ghoibiyah, cara berinteraksi dengan Tuhan, hak dan kewajiban manusia sebagai makhluk kepada kholiq-Nya dengan hanya bertumpu pada indera dan akal. Untuk itu dibutuhkan penyeimbang yang dapat menuntun ma nusia kepada pengetahuan lain diluar jangkauan akal. Dan penyeimbang ini adalah wahyu Tuhan.15

Relasi antara pengetahuan, filsafat dan agama.

Manusia dilahirkan dengan tanpa memiliki pengetahuan. Hanya saja Tuhan menganugerahkan akal pikiran dan panca indera kepada manusia. Dengan ini pula, manusia dapat memperoleh pengetahuan. (QS. Al Nahl:78). Islam sendiri menyeru umatnya agar selalu mencari pengetahuan sejak kita masih dalam buaian ibu hingga ajal menjemput nyawa. Karena dengan pengetahuan inilah manusia dapat berinteraksi dengan alam raya.

Sepanjang sejarah, manusia tidak akan pernah lepas dari usaha untuk menundukkan alam dengan menggunakan akal pikirannya. Makin lama, pengalaman dan pengetahuan manusia semakin meluas sehingga iapun lebih mampu membedakan dan memanfaatkan berbagai benda yang berada disekelilingnya. Ketika ia melihat dua batu yang saling berbenturan kemudian menimbulkan titikan api, manusia berfikir bahwa batu dapat digunakan untuk membantu manusia dalam berbagai hal. Mula-mula barangkali hanya untuk menerangi goa-goa, namun bersama dengan perputaran waktu manusia mulai mengetahui fungi api secara lebih luas. Ketika manusia melihat bahwa batu yang berbenturan dengan benda tertentu menimbulkan keretakan misalnya, manusia primitifpun berpikir bahwa batu dapat digunakan sebagai alat untuk berburu, sebagai senjata dan lain sebagainya.

Bagi manusia primitif, pikiran mereka barangkali masih dibayang-bayangi dengan pikiran mistis, namun setidaknya dengan melihat fenomena alam, manusia telah berpikir untuk menafsirkan berbagai gerakan dan kehidupan di alam raya sesuai dengan kemampuan mereka saat itu. Mereka juga berfikir bagaimana ia berinteraksi dengan alam sekitarnya. Manusia primitif percaya bahwa gerakan di alam ini ada yang mengatur. Seringkali mereka menyandarkan hal ini pada arwah atau tuhan-tuhan sebagaimana yang mereka pahami. Dari sini berkembang kepercayaan animisme, dinamisme dan paganisme dalam masyarakat primitif.

Bersama dengan putaran waktu, pengetahuan manusia primitif semakin bertambah. Mereka mulai berpikir bahwa sesuatu yang dulu dianggapnya sebagai Tuhan ternyata tidak mampu memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang sedang mereka hadapi. Manusia juga berpikir bahwa penomena alam yang sedemikian indah dan teratur ini tidak mungkin diciptakan dari banyak Tuhan. Dari sini manusia mulai percaya bahwa disana hanya ada satu Tuhan saja.

Semakin lama pengetahuan manusiapun semakin meluas sehingga satu persatu pengetahuan dapat berdiri sendiri secara tematis. Perlahan-lahan, pengetahuan mulai menjadi sebuah ilmu yang memiliki berbagai cabang sesuai dengan tema dan tujuannya masing-masing. Dari sini berkembanglah ilmu filsafat yang dapat menilai sesuatu secara lebih menyeluruh dan logis. Ilmu pun berkembang dengan filsafat, dan hal ini dapat dimanfaatkan manusia untuk mengimbangi kebutuhan mereka dalam berinteraksi dengan realitas. Dengan ini pula peradaban dapat berkembang sesuai dengan perkembangan pengetahuan manusia.

Namun stetemen diatas tidak dapat dipahami bahwa agama pertama adalah agama paganisme, kemudian secara perlahan agama berkembang hingga menjadi agama tauhid. Karena stetemen diatas hanyalah gambaran perkembangan agama menurut para imuwan agama. Setidaknya uraian diatas dapat memberikan sedikit ganbaran mengenai perkembangan pengetahuan manusia dari waktu kewaktu.

Kita tetap percaya bahwa agama pertama adalah tauhid (QS. al-Anbiya’:25), namun manusialah yang kemudian mendistorsi agama. Karena agama adalah fitrah manusia yang diberikan Tuhan semenjak manusia diciptakan (QS. al-Rûm: 30). Tuhan mengutus para rosul agar mereka meluruskan apa yang telah melenceng dari pemahaman manusia tentang ketuhanan. Ketika Tuhan menurunkan agama serta memberikan kitab suci sebagai petunjuk bagi manusia, bukan berarti Tuhan melarang manusia untuk berpikir. Karena dengan berpikir manusia akan menyadari bahwa firman Tuhan itu benar. Serinngkali muncul pertanyaan, mungkinkan agama dapat bertemu dengan pengetahuan, antara wahyu dengan akal, antara filsafat dengan agama atau antara ilmu dengan agama?. Di Barat, pertanyaan seperti ini muncul terutama semenjak masa pencerahan. Namun Islam sebagai agama terakhir yang luput dari distorsi manusia tetap dapat berjalan bergandengan dengan ilmu pengetahuan secara harmonis. Berbeda dengan agama samawi lainnya, karena telah jauh melenceng dari ajaran orisinil, maka seringkali terjadi pergulatan antara ilmu dengan agama.

Terdapat perbedaan antara pemikiran filsafat dengan pemikiran keimuwan. Pemikiran filsafat cenderung pada renungan pemikiran yang bersifat hipotesis, sementara pemikiran keimuwan lebih menekankan pada observasi. Dahulu terdapat banyak analisis mengenai awal terjadinya alam semesta yang satu sama lain terkadang memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Satu diantaranya adalah bahwa alam semesta memiliki empat unsur dasar yaitu air, api, udara dan debu. Ilmu sampai saat inibelum mampu memecahkan secara pasti asal mula alam semesta. Namun demikian setidaknya terdapat lebih dari 100 unsur yang terdapat di alam semesta yang dapat dilihat oleh mata manusia atau dapat dibawa ke laboratorium. Belakangan diketahui bahwa air bukanlah unsur. Air sendiri terdiri dari dua unsur yaitu oksigen dan hidrogen.

Filsafat yang lebih menekankan pada hipotesis akan segera berpindah menjadi sebuah ilmu hanya dengan memastikan kebenarannya dengan menggunakan metodologi tertentu. Filsafat akan segera meninggalkan obyek setelah campur tangan ilmu yang kebenarannya lebih dapat dipertanggung jawabkan.

Jika pada mulanya filsafat berkembang sebagai ekspresi manusia karena kecintaan terhadap hikmah serta bertujuan untuk menyingkap sesuatu yang janggal dalam alam realitas, maka sampai saat inipun filsafat tetap memiliki posisi khusus. Filsafat dapat mengekspresikan hubungan saling mempengaruhi antara manusia dengan alam semesta. Pemahaman seperti inilah yangber kembang pada masa keemasan peradaban Islam, dan filsafat Islam adalah puncak kreatifitas akal. Filsafat Islam mempunyai pengaruh besar terhadap pencerahan di dunia Barat. Dari sinilah Barat mengembangkan pengetahuan sesuai dengan nilai dan norma mereka yang kemudian dapat mengantarkan manusia pada peradaban tegnologi modern. Ini adalah bukti kuat kaitan pengetahuan dengan filsafat Islam. Ilmu tidak mungkin berkembang tanpa adanya pemikiran dan pemikiran tidak akan berkembang jika jauh dari pengetahuan.

Para ulama dan failusuf Islam klasik menganggap bahwa pengetahuan empiris adalah bagian dari fisafat. Mereka selalu berupaya untuk menemukan berbaga solusi yang berkaitan dengan alam fisik dan alam metafisik. Imam Al-Rozi adalah seorang dokter sekaligus serang failusuf besar. Dalam mengkaji ilmu kedokteran dan filsafat tidak segan-segan untuk memberikan keritikan kepada mereka yang berlawanan dengan pendapatnya. Studi mengenai alam fisik dilakukan dengan menggunakan metodologi riset. Demikian pula yang dilakukan oleh Ibnu Sina dan para failusuf Islam lainnya.

Ringkas kata bahwa dalam Islam terdapat hubungan erat antra agama, pengetahuan dengan filsafat. Agama tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan, dan filsafat dapat membantu manusia untuk mengetahui kebenaran. 16


Sumber Dan Alat Pengetahuan.

Pengetahuan adalah mungkin dan realistis. Namun bagaimana manusia dapat mengetahui? Masalah sumber dan alat pengetahuan juga dibahas dalam literatur-literatur epistimologi Islam. Sesuai dengan hukum kausaliltas bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya, maka pengetahuan adalah sesuatu yang sifatnya aksidental -baik menurut teori recolection-nya Plato, teori Aristoteles yang rasionalis-paripatetik, teori iluminasi-nya Suhrawardi, dan filsafat-materialisnya kaum empiris. Tentunya sumber pengetahuan beragam sesuai dengan keragaman aliran pemikiran manusia. Ketika ingin berhubungan dengan sumber pengetahuan, manusia memerlukan suatu alat.17 Menurut para filusuf Islam, terdapat beberapa sumber dan sekaligus alat pengetahuan, yaitu :

1. wahyu

2. Alam tabi'at atau alam fisik

3. Alam Akal

4. Hati dan Ilham

1. Wahyu

Yang dimaksud dengan wahyu di sini adalah segala ajaran yang diturunkah Tuhan kepada nabi Muhammad saw. Dari sini wahyu dapat dibagi menjadi dua, wahyu yang berupa kalam ilahi (al-Qur’ân) dan wahyu yang diekspresikan oleh nabi Muhammad saw (hadits nabi). (QS. Al-Najm: 34).

Wahyu memberikan pengetahuan manusia pada beberapa hal, diantaranya adalah:

a. Alam metafisika

Para ulama membagi permasalahan metafisika menjadi dua, pertama, berkaitan dengan permasalahan metafisika itu sendiri dan kedua berkaitan dengan bukti empiris mengenai keberadaan alam metafisika. Untuk permasalahan pertama, wahyu telah menjelaskan secara gamblang mengenai realitas dan hubungan manusia dengan alam metafisika, diantaranya adalah masalah ketuhanan, tauhid, kenabian, hari akhir, awal dan tujuan penciptaan manusia, posisi manusia terhadap alam fisik, alam ghoib dan lain sebagainya. (QS. al-Jâtsiyah: 13, QS. al-Nahl: 38-39, QS. Al-Hâqah:13-17)

Ketika Tuhan berbicara mengenai sifat-sifat-Nya, Tuhan mengharapkan manusia sedapat mungkin untuk meniru sifat-sifat Tuhan tersebut. Ketika Tuhan berbicara mengenai malaikat, Tuhan mengingatkan manusia bahwa segala amal perbuatan manusia diawasi dan direkam oleh malaikat. Ketika Tuhan berbicara mengenai hari akhir, Tuhan mengingatkan manusia bahwa dunia bukanlah tujuan akhir. Segala amal perbuatan manusia akan dipertanggung-jawabkan kelak dihari kemudian. Tidak hanya sampai disitu, wahyu juga memberikan keterangan rinci mengenai malaikat, sifat dan nama baik Tuhan (asmâu’l husna), kejadian hari kebangkitan, sorga, neraka dan lain sebagainya sehingga pengetahuan manusia tidak lagi hanya sekedar meraba-raba.

Tentu saja terdapat perbedaan antara pandangan wahyu mengenai alam metafisika dengan pandangan para filosof. Wahyu tidak hanya sekedar memberikan gambaran alam metafisik, namun juga memberikan pengetahuan bagaimana kita berinteraksi dengan alam metafisik tersebut. Para filosof Islam biasanya hanya berusaha membuktikan bahwa firman Tuhan tentang alam metafisik adalah benar adanya, karena pengetahuan mereka telah dilandasi oleh wahyu.

Adapun bagian kedua yaitu yang berkaitan degan bukti empiris, wahyu secara tegas memberikan dukungan kepada tindakan observasi, bahkan dalam al-Qurâ’an banyak terdapat ayat-ayat yang menyeru manusia agar melihat alam ciptaannya. Dengan ini diharapkan manusia akan menyakini bahwa alam yang berjalan dengan sangat rapi tentu ada yang mengatur dan menciptakan.

b. Segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum (syarî’at)

Wahyu juga memberikan gambaran mengenai posisi manusia di muka bumi, bagaimana ia berinteraksi dengan Tuhan, alam dan sesama manusia. semua diatur melalui hukum syarî’at. Dengan syarî’at pula, Tuhan memberikan aturan main bagi kehidupan umat manusia yang tentu saja demi kemaslahatan manusia itu sendiri.18

2. Alam tabi'at atau alam fisik

Manusia sebagai wujud materi, selama di alam materi ia tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif. Hubungannya dengan materi menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra (al-hiss), karena sesuatu yang materi tidak bisa dirubah menjadi yang tidak materi (inmateri). Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, sepert makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya. Dengan demikian, alam tabi'at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang "barangkali" paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya tabi'at.

Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam tabi'at. Disebutkan bahwa, barang siapa tidak mempunyai satu indra maka ia tidak akan mengetahui sejumlah pengetahuan. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis (badihiyyât). Meski indra berperan sangat signifikan dalam berpengetahuan, namun indra hanya sebagai syarat yang lazim bukan syarat yang cukup. Peranan indra hanya memotret realita materi yang sifatnya parsial saja, dan untuk meng-generalisasi-kannya dibutuhkan akal. Malah dalam kajian filsafat Islam yang paling akhir, pengetahuan yang diperoleh melalui indra sebenarnya bukanlah lewat indra. Mereka mengatakan bahwa obyek pengetahuan (al ma'lûm) ada dua macam, yaitu, (1) obyek pengetahuan yang substansial dan (2) obyek pengetahuan yang aksidental. Yang diketahui secara substansial oleh manusia adalah obyek yang ada dalam benak, sedang realita di luar diketahui olehnya hanya bersifat aksidental. Menurut pandangan ini, indra hanya merespon saja dari realita luar ke relita dalam.19

Pandangan Sensualisme (al-hissiyyin).

Kaum sensualisme, khususnya John Locke, menganggap bahwa pengetahuan yang sah dan benar hanya lewat indra saja. Mereka mengatakan bahwa otak manusia ketika lahir dalam keadaan kosong dari segala bentuk pengetahuan, kemudian melalui indra realita-realita di luar tertanam dalam benak. Peranan akal hanya dua saja yaitu, menyusun dan memilah, dan meng-generalisasi. Jadi yang paling berperan adalah indra. Pengetahuan yang murni lewat akal tanpa indra tidak ada. Konsekuensi dari pandangan ini adalah bahwa realita yang bukan materi atau yang tidak dapat bersentuhan dengan indra, maka tidak dapat diketahui, sehingga pada gilirannya mereka mengingkari hal-hal yang metafisik seperti Tuhan.20

Pemahaman seperti ini tidak terdapat dalam Islam, karena Islam membagi wujud menjadi dua, yaitu alam fisik dan alam metafisik. Indera manusia hanya dapat bersentuhan dengan alam metafisik sedangkan alam fisik berada diluar jangkauan indera. Manusi dituntut untuk mengetahui dua alam ini. Kepercayaan manusia terhadap dua alam materi dan non materi akan berpengaruh kepada perjalanan dan tingkah laku manusia. Dengan dua kepercayaan inilah peradaban Islam dibangun.

Islam juga tidak menafikan metodologi empiris yang bersifat eksperimental, bahkan Islam sangat mendukung kegiatan seperti ini. Karena kegiatan seperti inilah yang akan mengantarkan manusia pada kemajuan peradaban. Apalagi dalam ayat-ayat al-Qur’ân Tuhan sering menyeru umat manusia agar selalu mengadakan observasi sebagai langkah untuk dapat menundukkan alam raya. (QS. Ibrâhîm: 32-33). Kegiatan seperti ini tidak hanya sekedar teori, namun juga telah direalisasikan oleh para ulama kita terdahulu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metodologi research berasal dari ajaran Islam yang orisinil.21

2. Alam Akal

Kaum Rasionalis, selain alam tabi'at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yang berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya. Tetapi tanpa indra pangetahuan akal hanya tidak sempurna, bukan tidak ada. 22

Islam sendiri sangat menghormati akal, bahkan dalam banyak ayat sering timbul pertanyakan “Apakah kamu tidak berakal”?. Dengan akal, manusia dapat merenungi alam semesta dan mencarikan solusi terhadap problematika yang sedang dihadapinya. Akal juga dapat mengantarkan manusia pada pengetahuan ketuhana, bahwa alam tidak datang secara kebetulan. (QS. al-Qoshos :71-72, QS. al-Dzâriyât: 21)

Namun demikian Islam tidak mentuhankan akal, artinya bahwa segala sesuatu dapat di pecahkan lewat akal. Karena bagaimanapun juga, akal manusia juga memiliki sisi-sisi kelemahan. Akal manusia tidak dapat menjangkau sesuatu yang berada diluar rasional seperti al ghoibiyah.

Aktivitas-aktiviras Akal23

Selain itu, akal juga memiliki aktivitas tertentu. Akal tidak jumûd yang hanya menerima apa adanya tanpa mengeluarkan reaksi. Sebagai suatu proses pengetahuan, akal akan selalu beraktivitas dan mengolah pengetahuan sesuai dengan kemampuan akal itu sendiri. Diantara aktivits akal adalah:

1. Menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif.

2. Mengetahui konsep-konsep yang general. Ada dua teori yang menjelaskan aktivitas akal ini, pertama, teori yang mengatakan bahwa akal terlebih dahulu menghilangkan ciri-ciri yang khas dari beberapa person dan membiarkan titik-titik kesamaan mereka. Teori ini disebut dengan teori tajrîd dan intiza'. Kedua, teori yang mangatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman benak, dan generalisasi.

3. Pengelompokan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita yang dikelompokkan ke dalam substansi, dan ke dalam aksdensi (yang sembilan macam).

4. Pemilahan dan Penguraian.

5. Penggabungan dan Penyusunan.

6. Kreativitas.

Demikianlah aktivitas akal manusia. tentu saja, kemampuan aktivitas akal antara satu indivisu dengan individu lainya berbeda-beda tergantung dari kemampuan akal itu sendiri. Dengan ini pula pengetahuan dapat berkembang.

a. Qiyâs (analogi) sebagai wujud mencari kebenaran melalui logika

Al-Qur’ân dan al-sunnah adalah dua teks yang terbatas, sementara problematika umat Islam tidak terbatas. Untuk itu para ulama Islam mencari solusi lain untuk dapat memecahkan masalah yang timbul dalam masyarakat setempat. Tentu saja dengan tetap berlandaskan pada dua teks tersebut. Dari sini para ulama dituntut untuk meletakkan landasan teoritis yang dapat dijadikan pijakan dalam menentukan hukum. Maka peran akal atau ilmu logika menjadi sangat urgen. Muncullah apa yang kemudian disebut sebagai qiyâs (analogi). Analogi ialah menetapkan hukum (baca; predikat) atas sesuatu dengan hukum yang telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu

Disini akan di bahas mengenai qiyas menurut ulama usul fiqh dan ulama kalam. Sengaja dibedakan antara keduanya karena dalam pemahasan ini ulama kalam memberikan beberapa tambahan yang tidak disepakati oleh ulama usul. Demikian juga sebaliknya, ulama usul memberikan tambahan yang tidak dipakai oleh ulama kalam.

1. Qiyâs ushulî

Sebelum masa al-Ghozâlى, para ulama kalam dan sebagian ulama usul menganggap bahwa qiyâs ushulî dapat mengantarkan ulama pada kebenaran. Qiyâs sendiri dilakukan melalui penelitian yang sangat mendalam dan menggunakan dua landasan penting, yaitu hukum illiyah, dan hukum ithrod.

Hukum illiyah adalah hukum kausalitas, dalam artian setiap sesuatu yang ma’lûl (musabab), pasti ada illahnya (sebab). Untuk mengetahui hukum kausalitas dapat kita saksikan melalui fenomena alam fisik. Contoh bahwa illah diharamkannya khomer karena memabukkan. Dengan demikian setiap sesuatu yang memabukkab hukumnya haram.

Sedangkan hukum ithrod adalah bahwa kejadian alam berjalan dalam satu kepastian hukum alam, artinya observasi pada suatu obyek dapat mencapai hasil tetap atau menemukan hukum alam. Contoh: bumi berputar mengelilingi matahari atau bumi berputar pada porosnya. Peristiwa alam seperti ini sejak dulu hingga sekarang selalu berjalan tanpa adanya perubahan.24 Sebabnya adalah bahwa setiap kejadian alam sudah tersusun rapi dan teratur (nature is uniform). Dari sini timbul kesimpulan bahwa jika terjadi peristiwa alam dikarenakan oleh sebab-sebab tertentu, kemudian terjadi dalam peristiwa lain yang mempunyai penyebab sama maka akan menimbulkan nilai yang sama pula.

Mengenai Qiyâs, para ulama usul terbagi menjadi dua:

1. Mereka yang berpendapat bahwa qiyâs dianggap sah bila terdapat sebagian kesamaan, artinya jika terdapat sifat-sifat ‘irdliyah pada dua bagian; asal dan cabang, maka kita menganggapnya telah memiliki sifat-sifat kesamaan. Qiâs seperti ini disebut sebagai qiyâs dlonni dan tidak dapat dijadikan sandaran dalam metodologi research.

2. Mereka yang berpendapat bahwa qiyâs dapat dianggap sah jika terdapat illah yang sama antara asal dengan cabang. Qiyâs ini dianggap telah memenuhi standar ilmiah karena bertumpu pada hukum illiyah (the law of universal causation) dan ithrod (law of univormity of nature). Untuk itulah para ulama juga meletakkan landasan hukum yang dapat mengetahui kebenaran illah atau ithrod.

Qiyâs seperti ini tersusun dari beberapa unsur;

(1) asal, yaitu kasus parsial yang telah diketahui hukumnya.

(2) cabang, yaitu kasus parsial yang hendak diketahui hukumnya,

(3) titik kesamaan antara asal dan cabang (illah)

(4) hukum yang sudah ditetapkan atas asal.25

2. Qiyâs al ghoib alâ al syâhid

Para ulama kalam kususnya dari kalangan asy’âriyah menggunakan Qiyâs al ghoib alâ al syâhid untuk menentukan kebenaran atas obyek yang belum jelas (majhul). Jika qiyâs usulî menganalogikan cabang karena mempunyai kesamaan illah dengan asal, maka qiyâs al ghoib alâ al syahid sebalikknya, menganalogikan asal dengan cabang karena dianggap memiliki kesamaan illah. Selain illah, para ulama usul menambahkan kesamaan lain seperti syarat, dalîl, had, hakekat.

Contoh kesamaan illah menurut ulama usul: jika dalam alam fisik kepandaian seseorang karena memiliki pengetahuan, maka hal ini juga berlaku pada alam ghoib. Hal ini dikarenaka adanya kesamaa illah sehingga memiliki nilai sama. Dengan artian bahwa sifat tertentu pada suat benda mengharuskan adanya mausuf.

Contoh kesamaan syarat menurut ulama usul: dalam alam fisik bahwa orang yang mempunyai sifat pandai disyaratkan harus hidup. Dan hal ini juga berlaku pada yang ghoib.

Contoh kesamaan dalil (bukti) menurut ulama usul: dalam alam fisik bahwa orang yang mempu membuat sesuatu membuktikan bahwa dia mempunyai sifat kemampuan (qudrah), demikian halnya dengan yang ghoib.

Contoh kesamaan had atau hakekat menurut ulama usul: jika dalam alam fisik seseorang dikatakan pandai karena memiliki pengetahuan, maka hal ini juga berlaku pada alam ghoib. Namun para ulama kalam berbeda pendapat mengenai had dan hakekat, apakah keduanya hanya perbedaan terminilogi namun mempunyai definisi yang sama, atau keduanya memiliki sefinisi sendiri- sendiri?

Qiyâs al ghoib alâ al syâhid sebagaimana yang digunakan para ulama kalam mendapatkan banyak kritikan. Pertama, kesamaan hakekat dianggap batil karena pengetahuan al hâdits (baru) berbeda dengan pengetahuan al qodim (lama). Bagaimana kita menganalogikan sesuatu yang jelas memiliki perberbedaan? Kedua, bahwa qiyâs seperti ini hanya akan menghasilkan nilai yang bersifat dlonî (meragukan) dan bukan qoth’î (yakin).

Inilah satu diantara landasan teoritis yang diletakkan para ulam usul dan ulama kalam dalam upaya mencari kebenaran. Meskipun terdapat banyak kritik terutama dari kalangan ulama muta’ahhirîn, namun setidaknya menunjukkan kepiaaian ulama Islam dalam menentukan hukum yang tidak terdapat dalam al Qur’ân maupun al sunnah.25

3. Hati dan Ilham

Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang inmateri tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan seperti itu tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati.

Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah pengetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang intuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali.

Bagaimana mengetahui lewat hati ?

Filusuf Ilahi Mulla Shadra ra. berkata, "Sesungguhnya ruh manusia jika lepas dari badan dan berhijrah menuju Tuhannya untuk menyaksikan tanda-tanda-Nya yang sangat besar, dan juga ruh itu bersih dari kamaksiatan-kemaksiatan, syahwat dan keterkaitan, maka akan tampak padanya cahaya makrifat dan keimanan kepada Allah dan malakut-Nya yang sangat tinggi. Cahaya itu jika menguat dan mensubstansi, maka ia menjadi substansi yang qudsi, yang dalam istilah hikmah teoritis oleh para ahli hikmat disebut dengan akal efektif dan dalam istilah syariat kenabian disebut ruh yang suci. Dengan cahaya akal yang kuat, maka terpancar di dalamnya -yakni ruh manusia yang suci- rahasia-rahasia yang ada di bumi dan di langit dan akan tampak darinya hakikat-hakikat segala sesuatu sebagimana tampak dengan cahaya sensual mata (alhissî) gambaran-gambaran konsepsi dalam kekuatan mata jika tidak terhalang tabir. Tabir di sini -dalam pembahasan ini- adalah pengaruh-pengaruh alam tabiat dan kesibukan-kesibukan dunia, karena hati dan ruh -sesuai dengan bentuk ciptaannya- mempunyai kelayakan untuk menerima cahaya hikmah dan iman jika tidak dihinggapi kegelapan yang merusaknya seperti kekufuran, atau tabir yang menghalanginya seperti kemaksiatan dan yang berkaitan dengannya "

Kemudian beliau melanjutkan, "Jika jiwa berpaling dari ajakan-ajakan tabiat dan kegelapan-kegelapan hawa nafsu, dan menghadapkan dirinya kepada Alhaq dan alam malakut, maka jiwa itu akan berhubungan dengan kebahagiaan yang sangat tinggi dan akan tampak padanya rahasia alam qudsi). Lihat ." (al-Asfar al-Arba'ah jilid 7 halaman 24-25).

Tentang kebenaran realita alam ruh dan hati ini, Ibnu Sina berkata, "Sesungguhnya para 'arifin mempunyai makam-makam dan derajat-derajat yang khusus untuk mereka. Mereka dalam kehidupan dunia di bawah yang lain. Seakan-akan mereka itu, padahal mereka berada dengan badan mereka, telah melepaskan dan meninggalkannya untuk alam qudsi. Mereka dapat menyaksikan hal-hal yang halus yang tidak dapat dibayangkan dan diterangkan dengan lisan. Kesenangan mereka dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan didengar telinga. Orang yang tidak menyukainya akan mengingkarinya dan orang yang memahaminya akan membesarkannya." (al-Isyarat jilid 3 bagian kesembilan tentang makam-makam para 'arif halaman 363-364)

Kemudia beliau melanjutkan, "Jika sampai kepadamu berita bahwa seorang 'arif berbicara -lebih dulu- tentang hal yang ghaib (atau yang akan terjadi), dengan berita yang menyenangkan atau peringatan, maka percayailah. Dan sekali-sekali anda keberatan untuk mempercayainya, karena apa yang dia beritakan mempunyai sebab-sebab yang jelas dalam pandangan-pandangan (aliran-aliran) tabi'at."

Pengetahuan tentang alam ghaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan dengan pribadi seseorang saja disebut ilham atau isyraq, dan jika berkaitan dengan bimbingan umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat disebut wahyu.26

Syarat dan Penghalang Pengetahuan.

Meskipun berpengetahuan tidak bisa dipisahkan dari manusia, namun seringkali ada hal-hal yang mestinya diketahui oleh manusia, ternyata tidak dapat diketahui.

Oleh karena itu ada beberapa pra-syarat untuk memiliki pengetahuan, yaitu :

1. Konsentrasi

Orang yang tidak mengkonsentasikan (memfokuskan) indra dan akal pikirannya pada benda-benda di luar, maka dia tidak akan mengetahui apa yang ada di sekitarnya.

2. Akal yang sehat

Orang yang akalnya tidak sehat tidak dapat berpikir dengan baik. Akal yang tidak sehat ini mungkin karena penyakit, cacat bawaan atau pendidikan yang tidak benar.

3. Indra yang sehat

Orang yang salah satu atau semua indranya cacat maka tidak mengetahui alam materi yang ada di sekitarnya.

Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka seseorang akan mendapatkan pengetahuan lewat indra dan akal. Kemudian pengetahuan dapat dimiliki lewat hati. Pengetahuan ini akan diraih dengan syarat-syarat seperti, membersihkan hati dari kemaksiatan, memfokuskan hati kepada alam yang lebih tinggi, mengosongkan hati dari fanatisme dan mengikuti aturan-aturan syar’î dan suluk. Seorang yang hatinya seperti itu akan terpantul di dalamnya cahaya Ilahi dan kesempurnaan-Nya.

Ketika syarat-syarat itu tidak terpenuhi maka pengetahuan akan terhalang dari manusia. Secara spesifik ada beberapa sifat yang menjadi penghalang pengetahuan, seperti sombong, fanatisme, taqlid buta (tanpa dasar yang kuat), kepongahan karena ilmu, jiwa yang lemah (jiwa yang mudah dipengaruhi pribadi-pribadi besar) dan mencintai materi secara berlebihan.27

Metodologi keilmuan dalam perspektif Islam.

Pengertian metodologi keilmuan

Secara singkat dapat dikatakan bahwa metode keilmuan adalah suatu teori pengetahuan yang dipergunakan manusia dalam memberikan jawaban tertentu terhadap suatu pertanyaan.28 Metode, menurut Senn, merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu, yang memiliki langkah-langkah yang sistematis. Metodologi keilmuan merupakan pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut. Metode ini menitikberatkan kepada suatu urutan prosedur yang seksama, dimana diperoleh sekumpulan pengetahuan yang diperlukan secara terus menerus dan bersifat mengoreksi diri sendiri. Metode keilmuan mendasarkan diri pada anggapan bahwa terdapat keteraturan yang dapat ditemukan dalam hubungan antara gejala-gejala dan bahwa alat panca indera manusia (atau alat yang dibuat secara teliti) pada dasarnya dapat berfungsi secara layak. Jadi metodologi keilmuian merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.29 Dan ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah.

Lewat pengorganisasian yang sistematis dan pengujian pengamatan, manusia telah mampu mengumpulkan pengetahuan secara kumulatif, walaupun yang terus menerus bertumbuh dan mempunyai peluang yang besar untuk benar. Kendati demikian, metode keimuwan tidak mengajukan diri sebagai sebuah metode yang membahayakan manusia kepada sesuatu kebenaran akhir yang takan pernah berubah.

Kesadaran ini diajukan tentu didasarkan atas beberapa keterbatasan yang dimiliki oleh metode keilmuan terutama terletak pada asumsi landasan epistemologi ilmu, yang menyatakan bahwa kita mampu memperoleh pengetahuan yang bertumpuh pada prespsi, ingatan dan penalaran.30

Proses kegiatan ilmiah, menurut Riychia Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu. Secara ontologis ilmu membatasi masalah yang diamati dan dikaji hanya pada masalah yang terdapat dalam ruang lingkup jangkauan pengetahuan manusia. Jadi ilmu tidak mempermasalahkan tentang hal-hal di luar jangkauan manusia. Karena yang dihadapinya adalah nyata maka ilmu mencari jawabannya pada dunia yang nyata pula. Einstein menegaskan bahwa ilmu dimulai dengan fakta dan diakhiri dengan fakta, apapun juga teori-teori yang menjembatani antara keduanya. Teori yang dimaksud di sini adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut, tetapi merupakan suatu abstraksi intelektual di mana pendekatan secara rasional digabungkan dengan pengalaman empiris. Artinya, teori ilmu merupakan suatu penjelasan rasional yang berkesusaian dengan obyek yang dijelaskannya. Suatu penjelasan biar bagaimanapun meyakinkannya, harus didukung oleh fakta empiris untuk dinyatakan benar.

Di sinilah pendekatan rasional digabungkan dengan pendekatan empiris dalam langkah-langkah yang disebut metode ilmiah. Secara rasional, ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak.31

Metode ini secara ringkas merupakan suatu rangkaian prosedur yang tertentu harus diikuti untuk mendapatkan jawaban yang tertentu dari pengetahuan yang tertentu pula. Kerangka dasar prosedur ini dapat diuraikan dalam 6 (enam) langkah yaitu :

(1). Sadar akan adanya masalah dan perumusan masalah,

(2). Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan,

(3). Penyusunan atau klasifikasi data,

(4). Perumusan Hipotesis,

(5). Dedukasi dan Hipotesis, dan

(6). Tes dan pengujian kebenaran (verifikasi) dari hipotesis32

Dengan menggunakan langkah-langkah tersebut diatas maka jawaban dari kebenaran keimuan akan lebih dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam keilmuan Islam, ada beberapa hal yang patut diperhatikan sebelum melakuakan kejian ilmiah. Dengan ini diharapkan ilmuan muslim tetap berjalan diatas rel-rel yang telah digariskan Islam serta terhindar dari pemahaman yang bersifat materialistik dan sekuleristik.

1. Tauhid.

Pencerahan di barat di awali dengan pergulatan antara para ilmuan disatu pihak dan gereja dipihak lain. Para ilmuan beranggapan bahwa ilmu tidak mungkin dapat dikompromikan dengan agama. Pergulatan ini pada akhirnya dimenangkan oleh para ilmuan. Inilah awal dari proses sekulerisasi Barat. Ilmu pengetahuan sama sekali terlepas dari nilai-nilai keuhan. Bahkan mereka cenderung mentuhankan pengetahuan itu sendiri sehingga ilmu pengetauan dianggap sebagai solusi atas segala problematika yang dihadapi umat manusia. Lebih parah lagi, ilmu pengetahuan dianggap lepas dari manusia sehinga eksistensi manusi hanyalah sebagai pion pengetahuan.

Dari sini muncul gerakan Antisciece. Mereka menolak mengikuti pengetahuan secara membabi buta yang mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Mereka beranggapan bahwa pemahaman seperti ini hanya akan menghancurkan peradaban manusia itu sendiri. Sebagian mereka bahkan menyeru agar manusia menjauhkan diri dari sikap materialistis dan kembali kepada fitrah manusia.

Sayangnya pemahaman mengenai sekulerisasi ilmu pengetahuan, bahwa pengetahuan sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama merembet ke dunia Islam. Muncul kesan bahwa untuk dapat mengejar ketertinggalan harus meniru metodologi barat meskipun itu bertentangan dengan nilai dan norma Islam. Maka mengembalikan metodologi keilmuan sebagaimana yang digariskan oleh Islam menjadi suatu keharusan.33

Dalam pengetahuan Islam terdapat dua hal yang sama-sama mendapat perhaitan secara seimbang, pertama adalah pengetahuan yang tetap dan tidak boleh dirombak (tsawâbit) dan yang kedua adalah pengetahuan yang bersifat elastis dan dapat berubah sesuai dengan tempat dan waktu (mutaghayirât).

Pengetahuan yang tidak dapat berubah (tsawâbit) adalah keimanan kepada sang pencipta (tauhid). Yang dimaksud dengan keimanan disini adalah kumpulan permasalahan dasar yang harus diterima dan dipercayai kebenarannya oleh seorang ilmuan sejak dini. Berpijak dari keimanan inilah para ilmuan muslim memulai segala aktifitasnya dalam mengembangkan pemikiran keimuan. Dengan tauhid ilmuan muslim dapat melihat hakekat kehidupan, pemikiran dan wujud dengan benar, selain itu tauhid juga dapat membantu mereka dalam membaca dan merenungi ayat-ayat Tuhan dalam kitab suci maupun ayat-ayat yang tersirat dalam alam raya. (QS. al-‘Alaq:1). Dan pemahaman keimanan seperti ini dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk mengembalikan metodologi research yang Islami. Aqidah tauhid juga dapat menjaga kehormatan manusia, menyelamatkan dan membebaskan manusia dari kekuasaan materialis.

Dengan berlandaskan tauhid, Islamisasi ilmu pengetahuan dapat terealisasikan. Dengkan demikian pemahaman filasafat ilmu dalam Islam akan memiliki arti yang lebih luas dibanding dengan pengertian filsafat ilmu menurut para ilmuwan pada umumnya. Jika para ilmuan barat hanya percaya pada sesuatu yang bersifat materi (alam fisik) dan rasional, maka pengetahuan dalam Islam leih jauh dari itu. Pengetahuan dalam Islam juga mempercayai hal-hal yang berada diluar alam fisik dan suprarasional. Ilmu alam fisik meskipun bersifat duniawi namun tetap ada korelasi dengan ketauhidan (ketuhanan). Tauhid akan mengantarkan ilmuan muslim kepada pencarian terhadap titik-titik kesatuan yang ada dalam alam raya juga dalam diri umat manusia itu sendiri.

Sebenarnya dalam berbagai cabang ilmu pengetahuanpun memiliki titik-titik pertemuan yang satu sama lain saling mempengaruhi sehingga dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan hanya ada satu. Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa pengetahuan hanya memiliki satu sumber karena semua cabang ilmu memiliki tempat dalam pengetahuan.

Kesatuan juga nampak di alam raya, dalam putaran atom, putaran elektronik, putaran planet bahkan putaran insan muslim ketika berthawaf mengelilingi ka’bah.

Dengan kepercayaan kepada arti kesatuan (tauhid) seorang ilmuwan akan lebih tenang dan percaya diri dalam menjalani preses observasi.34

2. hukum alam

Tauhid akan mengantarkan kita pada kepercayaan bahwa segala sesuatu yang berada di jagat raya berasal dari Tuhan yang satu. dan alam raya dikendalikan Tuhan dengan rapi dan teratur. Tuhan juga telah melatakkan ketentuan dalam alam semesta yang tidak akan pernah berubah, mengatur dan menjaga alam semesta sehingga tidak terjadi ketimpangan dalam peraturan hukum alam. (QS. al-Mulk 1-4, QS. al-Qomar :49)

Dengan ketentuan hukum alam yang tidak dapat berubah serta dengan memperhatikan hukum kausalitas, manusia dapat memperoleh pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dalam realitas sosial.


3. Kewajiban melakukan observasi

Bayak ayat-ayat Al-Qur’ân ataupun al-Hadits yang menyerukan umat Islam agar selalu menuntut ilmu dan mengadakan observasi dengan menggunakan metodologi yang benar. Bahkan para ulama sepakat bahwa mengetahui ilmu-ilmu duniai adalah fardlu kifayah. Ilmuan muslim yang melandasi proses observasi dengan tauhid, ketika berhasil menyingkap rahasia alam akan semakin mempertebal keimananya kepada Sang Pencipta (QS. Ali Imron:191). Setiap pengetahuan yang menyangkut kebutuhan umat Islam adalah fardu kifayah. Jika tidak ada seorangpun yang mengetahui pengetahuan tersebut maka seluruh umat Islam akan menanggung dosa. Tentu saja umat Islam disini adalah kumpulan komusitas umat yang tinggal dalam satu tempat tertentu. Karena pengetahuan sangat luas, maka spesialisasi dalam satu cabang ilmu sangat urgen35.

Pemahaman para ilmuan mengenai metodologi ilmiyah yang lepas dari nilai-nilai agama akan berimplikasi pada kepercayaan ilmuan kepada sang pencipta. Tidak hanya sampai disitu, pengetahuan yang sejatinya digunakan demi kemaslahatan manusia bahkan dapat menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Peradaban yang dibangun melalui pandangan pengetahuan sekuleristik akan mengantarkan manusia pada pandangan-pandangan materilaistik juga. Jika demikian adanya, maka proses observasi hanya akan mengantarkan manusia kepada jurang kekafiran. Penngetahuan yang semestinya menjadi pembantu manusia dalam mengatasi berbagai kendala yang mereka hadapai, justru sebaliknya, menciptakan problematika baru. Bahkan pengetahuan dijadikan alat untuk menghancurkan menusia dal alam raya. Benarlah firman Tuhan, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. al-Rûm: 41)

Tentu saja pandangan materialistik seperti ini tidak dikehendaki oleh Islam. Dengan landasan tauhid, pengetahuan tetap akan berjalan sesuai dengan nilai dan etika yang Islami. Para ilmuan muslimpun akan menggunakan ilmunya demi kemaslahatan umat manusia seluruhnya. Bukankah Islam adalah “rahmatan lil’âlamîn?” Segala sesuatu dapat merugikan umat manusia sejauh mungkin akan dihindari.

Observasi ilmiyah yang berlandaskam pada ajaran Islam juga akan memerangi bentuk-bentuk perdukunan, ramalan dan hal-hla mistis lainnya. Kepercayaan masyarakat pada mistisme seperti ini selain bertentangan dengan Islam juga akan menghalangi proses pekembangan pengetahuan.


4. Kenisbian pengetahuan ilmiah

Pengetahuan tidak terbatas sementara akal manusia sebagai subyek pengetahuan sangat terbatas. Seringkali para ilmuan menemukan rahasia alam kemudian meletakkan sebuah teori tertentu. Namun bersama dengan kemajuan ilmu dan tegnologi ternyata teori tersebut mengalami cacat sehingga menelurkan teori baru yang barangkali lebih valid. Sampai akhirnya manusia akan menemukan kebenaran yang sesungguhnya. Dalam al quran kebenaran ini di sebut sebagai sunatullah. Dulu manusia berfikir bahwa bumi adalah pusat tata surya. Matahari dan bintang-bintang ngkasa lainnya berputar mengelilingi planet bumi. Pemahaman seperti ini berlangsuing hingga ratusan tahun, namun pada akhirnya diketahui bahwa pusat tata surya bukan bumi, akan tetapi matahari.

Denagn pemahaman bahwa hasil penemuan ilmiah belum sampai pada titik final akan semakin mendorong ilmuan muslim supaya melakukan observasi secara kontinu. Ia tidak akan pernah puas terhadap produk pengetahuan yang dihasilkan manusia. kontinuitas dalam observasi inilah yang akan mendorong kemajuan ilmiah di dunia Islam. Dan kemajuan peradaban Islam masa lalu tidak lebih karena sikap dan pandangan ilmiah pada ilmuan muslim. Mereka tidak mau menerima pemikiran yang hanya bersifat hipotesis tanpa ada bukti empiris. Budaya laboratorium sangat berkembang di dunia Islam saat itu.36

Dari sedikit pembagasan mengenai akar epitemologi dalam Islam yang dilandasi dengan al-Qur’ân dan al-sunnah, jika kita komparasikan dengan struktur epistemologi di dunia Barat maka kita akan menemukan perbedaan yang sangant mencolok. Perbedaan struktur tentu juga akan berimplikasi pada perbedaan nilai. Jika pengetahuan Barat yang materialistik akan menghasilkan peradaban materilaistik pula, maka diharapkan dengan mengkaji struktur epistemiligi dalam Islam akan dapat mengembalikan peran pengetahuan Islam di dunia Islam pada khususnya dan internasional pada umumnya. (Wahyudi Abdurrahim)

End-notes:

1 www.Geocities.com/Hotsprings/6774/j-35, Agus Aditoni, EPISTEMOLOGI (Pengertian, Sejarah dan Ruang Lingkup).

2 www. Itb.ac.id/`eryan/FreeArticle/fililmu. Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad dengan judul “ Filsafat Ilmu”.

3 Agus Aditoni op. cit

4 Ust. Husein Al-Kaff, op. cit.

5 www. Hayati-itb.com. Fredrik Rieuwpassa (P.216.Oooo1-Gmk), Kajian Filusuf Terhadap Kebenaran Sains

6 Ibid.

7 www. Itb.ac.id/`eryan/FreeArticle/fililmu. Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad dengan judul “ Filsafat Ilmu”.

8 Ibnu Rusyd, Fashlu’l Maqal Fîmâ baina’l hikmah wa al-Syarîah mina’l ittishol hal. 31, dirâsah wa Tahqîq Muhammad ‘Imârah, Daru’l Ma’ârif.

9 Ust. Husein Al-Kaff, op. cit

10 Ibid.

11 Dr. Rojih ‘Abdu’l hamîd al-Kurdiy, Nazhoriyatu’l Ma’rifah Baina’l Qur’ân Wa’l Falsafah, hal 83-84 Maktabah al-Mu’ayyad.

12 www. Itb.ac.id/`eryan/FreeArticle/fililmu. Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad dengan judul “ Filsafat Ilmu

12 Dr. Rojih ‘Abdu’l hamîd al-Kurdiy, op. Cit., hal. 86

13 Makalah Ust. Husein Al-Kaff, op. cit.

14 Dr. Muhammad Robi’ Muhammad Jauharî, Iqtinâshu’l ‘awalî minan iqtishodi’l Ghozâlî, hal. 62.

15 Dr. Fathî Hasan Mlakâwî ed. Nahwû Nidlomi Ma’rfî islâmî, IIIT, Maktabatu’l Urdun.

16 Dr. Ahmad Fu’ad Basya, Dirosât Islâmiyah fî’l Fikri’l Ilmî hal. 94

17 www. Itb.ac.id/`eryan/FreeArticle/fililmu. Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad dengan judul “ Filsafat Ilmu.

18 Dr. Rojih ‘Abdu’l hamîd al-Kurdiy, Nazhoriyatu’l Ma’rifah Baina’l Qur’ân Wa’l Falsafah, hal. 202-212, Maktabah al-Mu’ayyad.

19 Ust. Husein Al-Kaff, op. cit.

20 Ibid.

21 Dr. Ahmad Fu’ad Basya, Dirosât Islâmiyah fî’l Fikri’l Ilmî hal. 128

22 www. Itb.ac.id/`eryan/FreeArticle/fililmu. Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad dengan judul “ Filsafat Ilmu”.

23 Ibid

24 Dr. Ahmad al-Sayyid ‘Alî Romadlon, al-Islâm Wa Falsafatu’l ulûm, hal. 590, Al’Dâru’l Islâmiyati Li’l Thobâ’ah Wa’l Nasr

25 Lihat, Dr. ‘alî sâmî al Nasyâr, Manâhiju’l Bahtsi ‘Inda Mufakkirî;l Islâmî Wa al Iktisyâfi’l Manhaji’l Ilmî fi’l ‘âlami’lislâmî hal. 111-115

25 Libih lengkapnya, lihat, ibid hal 132-136

26 www. Itb.ac.id/`eryan/FreeArticle/fililmu. Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad dengan judul “ Filsafat Ilmu”.

27 Ust. Husein Al-Kaff , Ibid

28 www. Hayati-itb.com. Fredrik Rieuwpassa (P.216.Oooo1-Gmk), Kajian Filusuf Terhadap Kebenaran Sains

29 www.Geocities.com/Hotsprings/6774/j-35, Agus Aditoni, EPISTEMOLOGI (Pengertian, Sejarah dan Ruang Lingkup).

30 Fredrik Rieuwpassa (P.216.Oooo1-Gmk), op.cit

31 Agus Aditoni, op. cit

32 Fredrik Rieuwpassa (P.216.Oooo1-Gmk), op. cit.

33 Dr. Ahmad Fu’ad Basya, Dirosât Islâmiyah fî’l Fikri’l Ilmî hal. 130

34 Dr. Ahmad Fu’ad Basya, ibid hal. 132-136

35 Dr. Ahmad Fu’ad Basya, ibid. hal 138

36 Lebih jelasnya lihat, Dr. Ahmad Fu’ad Basya, ibid hal. 136-142

Sebelumnya: Dr. Yûsuf Al-Qardhâwî: Akal ushûlî dalam pemikiran Islam
Selanjutnya : Bahasa dan Terjemah; Sebuah Pengantar Metodologis

Sumber: http://karangful.multiply.com/journal/item/13/13

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites